Home>CAMPURAN>Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, Apa Artinya?
Lambang Keadilan
CAMPURAN

Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia, Apa Artinya?

Ada banyak orang yang menyerukan tentang keadilan, bahkan kata tersebut tertera pada sila ke-5 Pancasila. Namun masih banyak yang belum mengerti tentang kata tersebut, bahkan seorang politikus sekalipun. Masih banyak politikus-politikus yang tidak mengerti tentang arti kata itu, bahkan banyak diantara mereka yang mengabaikannya. Lalu apa arti kata tersebut? Bagaimana realitas saat ini, apakah sudah mencapai kata adil atau belum? Silahkan simak dan pahami artikel ini baik-baik karena pada bagian akhir, kamu harus menjawab pertanyaan sulit.

Pengertian Keadilan

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI): “Perbuatan, perlakuan, dan sebagainya yang adil: dia hanya mempertahankan hak dan ~nya; Pemerintah menciptakan ~ bagi masyarakat“.
Sedangkan menurut Wikipedia: “Kondisi kebenaran ideal secara moral mengenai sesuatu hal, baik menyangkut benda atau orang”.
Aristoteles, filsuf dari yunani yang merupakan murid dari Plato ini bahkan memberikan 5 Teori Keadilan, yaitu:

Teori Keadilan Aristoteles

1. Keadilan Komunikatif
Merupakan penerapan dari sifat adil terhadap seseorang tanpa melihat jasa-jasa yang pernah dilakukannya. Seperti contohnya: Seseorang yang menerima hukuman tanpa melihat apa status dan jasa yang pernah dilakukannya.
2. Keadilan Distributif
Merupakan perlakuan kepada seseorang sesuai dengan jasa-jasa yang pernah dilakukannya. Contohnya: Memberikan gaji pada pekerja yang sudah melakukan pekerjaannya.
3. Keadilan Kodrat Alam
Yaitu perlakuan terhadap seseorang sesuai dengan hukum alam (karma). Seperti contohnya: Seseorang yang berbuat jahat, akan menerima hal jahat. Sebaliknya, seseorang yang melakukan hal baik akan menerima kebaikan juga.
4. Keadilan Konvensional
Yaitu penerapan sifat adil kepada seseorang yang ditetapkan melalui sebuah kekuasaan khusus. Contohnya: Warga negara yang harus mentaati peraturan dan hukum yang berlaku.
5. Keadilan Perbaikan
Merupakan sifat adil yang dilakukan kepada orang yang mencemarkan nama baik orang lain. Seperti contohnya: Misalnya artis yang melakukan konferensi pers untuk meminta maaf.

Pada intinya, arti dari kata tersebut adalah “sifat adil yang diterapkan pada seseorang”. Namun apakah kita bisa menerapkan sifat adil bagi orang lain? Jangankan pada orang lain, mungkin, kita bahkan tidak bisa adil pada diri sendiri. Lalu apakah bisa keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia diterapkan?

Realita Keadilan

Sifat adil erat kaitannya dengan peraturan atau hukum. Bahkan, salah satu parameter yang digunakan untuk mengetahui seberapa adil suatu negara adalah dengan melihat seberapa baik hukum itu diterapkan. Jika hukum saja tidak ditegakan dengan baik, apakah kita masih bisa menyebut bahwa negara ini sudah adil?

Realitanya, banyak pelanggaran yang tidak ditegakan dengan sungguh-sungguh atau penegakan hukum yang cenderung tajam ke bawah namun tumpul ke atas. Jadi seakan-akan hukum benar-benar diterapkan hanya untuk orang-orang ‘kecil’ saja, sedangkan para ‘penjahat berdasi’ bisa memainkan hukum dengan seenaknya.

Banyak kejadian-kejadian yang menunjukan bahwa hukum di Indonesia begitu tajam ke bawah dan tumpul ke atas. Hal ini jelas bertentangan dengan sila ke-5, yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia”. Berikut contoh kasus yang membuktikan bahwa hukum di indonesia tajam ke atas dan tumpul di bawah.

Nenek Saulina

Seorang nenek divonis hukuman 1 bulan 14 hari setelah dilaporkan oleh kerabatnya sendiri karena menebang pohon durian. Nenek Saulina menebang pohon durian tersebut untuk membuat makam para leluhur. Padahal nenek yang sudah berusia 92 tahun ini sudah meminta maaf, namun kerabatnya tersebut tidak mau menempuh jalan damai kecuali jika nenek Saulina membayar sejumlah uang dengan nominal ratusan juta rupiah. Tentu saja nenek Saulina tidak memiliki uang sebanyak itu, hingga akhirnya dilaporkan ke pihak kepolisian. Bukan hanya itu, anak nenek Sulina juga mendapat vonis 4 bulan 10 hari dipotong masa tahanan.

Nenek Saulina Dipersidangan
Sumber: tribunnews.com

Nenek Asyani

Dijebloskan kedalam penjara karena dinyatakan mencuri kayu jati yang ditebang oleh suaminya. Dinas perhutani menyebutkan bahwa pohon jati yang ditebang oleh suami nenek Asyani merupakan tanah BUMN. Padahal nenek Asyani merasa bahwa tanah tersebut adalah miliknya sendiri. Hingga akhirnya nenek Asyani sempat dipenjarakan. Merasa keadilan tidak diterapkan, pihaknya mengajukan penangguhan yang kemudian dikabulkan oleh pengadilan sehingga dinyatakan bebas.

Nenek Asyani
Sumber: detik.com

Bebasnya Si Kaya dari Jerat Hukum

Contoh dua kasus di atas adalah bukti bahwa hukum di indonesia memang tajam, dalam arti benar-benar diterapkan pada orang-orang ‘kecil’. Lalu apakah ada kasus yang membuktikan bahwa hukum di indonesia tumpul keatas? Jawabannya adalah banyak. Salah satu contohnya adalah seorang kepala sekolah yang melakukan pelecehan seksual, kemudian melaporkan korbannya. Si korban justru yang berbalik menjadi tersangka. Kemudian ada lagi kasus penyiraman air keras ke mata salah seorang penegak hukum. Pelaku hanya dihukum ringan saja, dengan alasan tidak sengaja. Masuk akalkah? Tentu saja semua akan masuk akal jika uang berbicara. Apakah itu merupakan sebuah keadilan? Kembali lagi ke kata “Tentu saja”.

Dampak tidak adanya Keadilan

Apakah penerapan hukum yang tidak adil akan berdampak besar? Tentu. Berikut adalah opini idebebas.com tentang dampak ketidakadaannya keadilan dalam penerapan hukum. Ini hanyalah opini, jadi silahkan jika para pembaca berbeda pendapat. Karena kebebasan berpendapat merupakan salah satu cerminan dari demokrasi.

Dampak terbesar dari tidak adanya keadilan adalah hancurnya sebuah negara. Bagaimana mungkin negara bisa hancur hanya karena hal seperti itu? Tentu saja alurnya sangat panjang dan rumit, jadi harus benar-benar dipahami dan dicermati dengan baik.

Tidak adanya Keadilan membuat Negara Hancur
Sumber: nusantarakini.com

Keadilan dapat ditegakan melalui peraturan atau hukum. Didalam sebuah negara ada yang disebut dengan penegak hukum, apapun namanya, penegak hukum adalah orang yang dapat menentukan apakah seseorang bersalah atau tidak. Bayangkan jika penegak hukum yang dipercaya oleh rakyat, tidak bisa bertindak adil. Hanya ‘orang kecil’ saja yang mendapatkan penerapan hukum yang sungguh-sungguh, sedangkan ‘orang besar’ dapat memainkan hukum dengan mudah. Apa yang akan terjadi?

Fase Kehancuran Suatu Negara – Faktor Keadilan

Fase pertama adalah adanya rasa tidak percaya. Rakyat akan menganggap bahwa penegak hukum tidak bisa dipercaya lagi, dan segala keputusannya adalah suatu kebohongan. Berawal dari rasa tidak percaya ini, rakyat akan melakukan suatu tindakan yang semakin lama semakin frontal. Bahkan akan terjadi aksi vandalisme terhadap sarana dan prasarana pemerintah.

Fase kedua adalah perlawanan rakyat. Ini memang terdengar aneh, dimana rakyat melawan orang yang dipilihnya sendiri. Namun hal semacam ini bisa saja terjadi jika memang keadilan sudah tidak bisa ditegakan lagi oleh sang penegak hukum. Pada fase ini aksi vandalisme semakin parah dan rakyat semakin berani untuk melawan.

Fase ketiga adalah anarkisme. Rasa tidak percaya yang sudah membesar akan membuat rakyat menjadi anarki. Penegak hukum, pejabat, bahkan pemerintahan tidak akan dipercaya lagi. Sehingga rakyat menginginkan para petinggi tersebut lengser dari jabatannya. Bahkan rakyat akan memilih tidak memiliki petinggi bila harus memiliki petinggi namun tidak bisa adil.

Fase keempat adalah kehancuran. Jika suatu negara tidak memiliki pemerintahan yang kuat karena adanya anarkisme, maka ‘pihak luar’ akan dengan mudah memanfaatkan situasi ini. Kemungkinan negara dijajah secara modern oleh ‘pihak luar’ sangat besar. Adu domba antar rakyat bisa saja terjadi. Bahkan hal terburuk adalah perang sodara. Hingga akhirnya sebuah negara ‘tak berbentuk’ lagi.

Negara yang Terancam Hancur
Sumber: boombastis.com

Kehancuran di atas hanya bisa diselesaikan dengan menerapkan sila ke-5 milik Indonesia, yaitu “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia“.

Pertanyaan Keadilan

Apakah kita sudah berbuat adil? Apakah kita sudah menjalankan keadilan dalam diri sendiri, oraganisasi, dan bernegara? Ada sebuah contoh kasus mengenai keadilan yang cukup sederhana. Jika kamu tahu jawabannya, silahkan tuliskan pada kolom komentar.

Pertanyaan tentang Keadilan

Suatu hari, di dalam ruang persidangan, seorang maling ayam divonis 1 tahun penjara. Si maling tidak terima dengan keputusan sang penegak hukum. Sebab menurutnya, penegak hukum tidak adil karena ada banyak maling lainnya yang terbukti bersalah namun tidak dijebloskan ke penjara. Jika kamu menjadi sang penegak hukum itu, apa yang akan kamu lakukan? Apakah akan menindak maling ayam yang lain? atau hanya menindak si maling ayam yang ada di persidangan saja? atau justru kamu hanya menasehati si maling ayam yang ada dipersidangan untuk selau taat agar tidak dipenjara, tapi justru membiarkan maling-maling yang lainnya bebas?

Saran

Jika teman-teman memiliki kritik dan saran silahkan bisa hubungi kami pada halaman KONTAK. Kami juga berharap teman-teman dapat berpartisipasi dalam membangun website ini. Terakhir, kami meminta maaf jika dalam website Ide Bebas terdapat banyak kekurangan. Terima kasih sudah mengunjungi website ini, semoga dapat bermanfaat.

PAHAMI SETIAP KATA DAN TEMUKAN RAHASIA DI DALAMNYA…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *