Home>PEMIKIRAN>Hampir Mati untuk yang Kedua Kali – Renungan
Hampir Mati
PEMIKIRAN

Hampir Mati untuk yang Kedua Kali – Renungan

Setiap orang akan mengalami kematian, tapi masih sedikit yang sadar bahwa kematian itu begitu dekat. Hampir mati untuk yang kedua kalinya merupakan pengalaman yang sangat berharga bagiku. Ya, sebelumnya aku pernah mati (mati suri) yang aku ceritakan juga disini. Kisah tersebut adalah bukti bahwa sebenarnya kita sebagai makhluk hidup begitu dekat dengan kematian. Silahkan ambil pelajaran dari lembar bab dalam buku kehidupanku ini.

Tak Menyangka Hampir Mati

Seperti biasa, sore itu aku sedang berhadapan langsung dengan mesin injection 100T bersama rekan kerjaku. Seharusnya, aku sudah pulang sejak jam 17.00 tadi. Akan tetapi karena orderan sedang banyak maka aku disuruh lembur. Aku bersyukur karena dapat lemburan yang melimpah, tapi disisi lain aku kebingungan bila ingin menolak lemburan tersebut. Sebab, jarang ada yang bisa dan mau untuk mengoperasikan mesin ini. Yaaahh jadi mau tidak mau, aku harus terima itu.

Tidak Menyangka Hampir Mati

Entah mengapa, saat itu kondisi badanku tiba-tiba tidak enak. Keringat dingin muncul di sekujur tubuh, dan kepalaku terasa berat. Kontan saja aku langsung tidak fokus kerja. Jangankan memikirkan target, bisa menyelesaikan pekerjaan saja sudah sangat bersyukur. Aku benar-benar tidak mengerti dengan apa yang terjadi, sebab beberapa menit sebelumnya kondisiku baik-baik saja. Aku terus paksakan keadaankku dan melanjutkan pekerjaan dengan pelan, untung saja rekan kerjaku bisa memakluminya sehingga kami dapat menyelesaikan pekerjaan tersebut. – Hampir Mati.

Hampir Mati karena Menganggap Remeh Penyakit

Ketika bel pulang berbunyi, aku langsung segera pulang ke kontrakan. Sampai di kontrakan, aku meminum obat warung yang sudah kubeli di perjalanan. Setelah meminum obat tersebut aku langsung tertidur, lumayan bisa meringankan sakit yang aku rasakan. Keesokan harinya, tubuhku semakin membaik. Walaupun belum sembuh total, namun demam yang terjadi padaku sudah tidak setinggi kemarin. Aku memutuskan untuk tidak berangkat kerja, sebab aku hanya bisa melakukan hal-hal ringan saja. Aku kira besok kondisi badanku sudah fit kembali, jadi aku pikir tidak perlu periksa ke dokter.

Ternyata dugaanku salah, malam harinya, aku kembali mengalami demam tinggi. Badanku lemas, perut mual dan kepala terasa berat. Sejujurnya, aku tidak pernah merasakan sakit seperti itu. Tanpa pikir panjang, aku yang kala itu ngontrak sendirian langsung menelpon Bapak untuk datang. Kebetulan Bapakku bekerja di kota yang sama denganku, jadi bisa datang dengan cepat. Semalaman aku dirawat Bapak di kontrakan. Ketika pagi datang, demamku tidak juga membaik. Bahkan lebih parah dari sebelumnya. Oleh sebab itu Bapak langsung mengajakku berobat ke dokter.- Hampir Mati.

Aku yang saat itu tidak bisa berbuat apa-apa lagi hanya mengikuti instruksi dari Bapak untuk bonceng ke motor matiknya. Sejujurnya, kondisiku saat itu sudah tidak karuan lagi. Kepalaku semakin berat dan sekelilingku terasa berputar. Perjalanan yang sungguh menyiksa, sebelum akhirnya aku sampai ke dokter dan didiagnosa terkena demam berdarah. Itu adalah kali pertama aku terkena DBD, sungguh tidak menyenangkan rasanya. Dokter pun menganjurkan agar aku segera dirujuk ke rumah sakit supaya bisa mendapatkan penanganan yang layak.

Didiagnosis Terkena DBD

Sebenarnya aku ingin berbaring saja disitu, karena memang aku sudah tidak sanggup lagi bila harus berdiri. Apalagi membayangkan naik motor di jalanan Bekasi yang panas dan macet dengan kondisi seperti ini, membuat aku menyerah duluan. Namun Bapak terus meyakinkanku bahwa perjalanan akan cepat, sebab rumah sakit tidak terlalu jauh.

Akses Kesehatan untuk Orang Miskin

Tanpa pikir panjang, Bapak langsung menaikanku ke motornya. Kami berboncengan kembali untuk menuju rumah sakit terdekat. Masalah justru muncul disini, aku baru ingat bahwa kartu BPJS ku belum selesai dibuat oleh perusahaanku saat itu. –Kenapa aku baru ingat sekarang, ada-ada saja– Namun begitu Bapak terus membawaku menuju rumah sakit, “urusan BPJS bisa dibicarakan nanti” katanya. Beliau begitu khawatir melihat kondisiku yang lemas dan tak berdaya. Jadi, yang ada dipikirannya adalah segera sampai di rumah sakit.- Hampir Mati.

Baca Juga:  Sebuah Kisah Klasik - Bukan Si Pencari Muka yang Baik

Sampailah kami di rumah sakit, sebut saja rumah sakit A (nama rumah sakit disamarkan). Disitu Bapak langsung menuju tempat pembayaran dan mengatakan bahwa kartu BPJS milikku belum jadi. Petugas rumah sakit tidak bisa melakukan tindakan padaku karena masalah BPJS tersebut. Setelah beberapa saat melakukan negosiasi, akhirnya Bapak tidak bisa berbuat banyak dan memutuskan untuk mencari rumah sakit lain. Ada sekitar 4 rumah sakit yang kami kunjungi, dan semuanya menolak kami karena masalah kartu BPJS tersebut.

Ditolak Rumah Sakit - Hampir Mati

Aku benar-benar putus asa, kondisi yang sudah separah ini membuat aku tak bisa menerima semua perlakuan rumah sakit yang menolak kami. Apakah sesusah ini mendapatkan pengobatan yang layak untuk orang miskin? Sungguh, saat itu apa yang ada dipikiranku hanyalah ingin terbebas dari rasa sakit itu. Cara apapun akan aku lakukan agar bisa terbebas dari siksaan seperti itu. Bahkan, meninggal sekalipun tak masalah. Asalkan aku bisa terbebas dari rasa sakitku. Kejadian ini membuatku berpikir, apakah nyawa orang miskin sepertiku sudah tak berharga lagi dimata mereka? Apakah hanya uang yang selalu mereka cari? Entahlah, yang jelas aku benar-benar kecewa dengan yang namanya rumah sakit.- Hampir Mati.

Akhirnya

Untungnya disepanjang perjalanan Bapak selalu menyemangatiku. Beliau bilang, jika rumah sakit selanjutnya tidak bisa merawatku karena masalah BPJS, maka Bapak akan membayar dengan uangnya sendiri. Aku tersenyum mendengarnya, bukan karena senang bisa diobati. Tapi perkataan Bapak tersebut membuatku berpikir, “kaya punya uang aja” wkwkwk. Sampailah aku di rumah sakit yang dituju, lokasinya di samping kali malang.

Berbeda dengan rumah sakit sebelumnya yang selalu mengutamakan pembayaran, disini aku langsung ditangani oleh petugas yang berjaga. Dokter yang saat itu melihat kondisiku yang memprihatinkan, langsung membawa aku ke ruang IGD. Sementara itu, Bapak bernegosiasi dengan bagian pembayaran perihal masalah kartu BPJS ku. Untungnya, pihak rumah sakit bisa mengerti dan memberikan Bapakku kesempatan untuk menyelesaikan permasalahan kartu BPJS ku itu. Akhirnya aku bisa berbaring dan mendapatkan pengobatan yang layak.

Mendapatkan Perawatan di IGD

Dua hari setelah aku dirawat, pihak perusahaan datang menjengukku sambil membawa kartu BPJS ku yang sudah selesai dibuat. Aku bisa lega karena Bapak tidak harus membayar biaya pengobatanku yang lumayan mahal. Keesokan harinya, ibu dan keluargaku yang lain datang menjenguk. Mereka menemani aku selama satu minggu dirawat di rumah sakit, sampai aku benar-benar sembuh. Terima kasih semua. – Hampir Mati.

Pelajaran

Lagi, aku dibuat terharu oleh perjuangan orang tua yang begitu mengkhawatirkan keadaan anaknya. Tak peduli usiamu berapa, orang tua akan tetap memberikan perhatian terbaik untukmu. Aku sangat bersyukur memiliki kedua orang tua yang sangat menyayangiku. Mereka tidak akan bisa tergantikan oleh apapun yang ada di dunia ini.

Bagi orang-orang yang tidak mampu sepertiku, mungkin mendapatkan fasilitas yang memadai di rumah sakit hanyalah angan belaka. Tapi jangan pernah menyerah sekalipun kamu tidak memiliki uang untuk berobat, teruslah berusaha. Sebab, diluar sana masih banyak rumah sakit yang mengutamakan nurani dari pada nilai duniawi.

Saran

Jika teman-teman memiliki kritik dan saran silahkan bisa hubungi kami pada halaman KONTAK. Kami juga berharap teman-teman dapat berpartisipasi dalam membangun website ini. Terakhir, kami meminta maaf jika dalam website Ide Bebas terdapat banyak kekurangan. Terima kasih sudah mengunjungi website ini, semoga dapat bermanfaat.

PAHAMI SETIAP KATA DAN TEMUKAN RAHASIA DI DALAMNYA…

2 Comments

  1. ada sedikit kekecewaan terhadap rumah sakit , ntah dari mana dahulu yang harus di perbaiki , rumah sakitnya atau systemnya ? sila ke 5 kita menyatakan “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat indonesia”
    rasanya bertolak belakang bila melihat kejadian di atas.
    semoga kedapannya ada orang yang bisa memperbarui keadaan ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *