Gelisah: Mencari Arti dari Sebuah Jawaban

Akhir-akhir ini, aku seperti merasakan kegelisahan yang tak beralasan. Entah apa yang sebenarnya terjadi, tapi yang jelas, kegelisahan ini sungguh membuatku tidak nyaman. Aku terus mencari arti dari kegelisahan ini, agar bisa lepas dari belenggu yang akhir-akhir ini begitu menyiksa. Berbagai pertanyaan muncul, apakah aku takut miskin? Takut tidak memiliki uang? Atau apakah aku takut kehilangan kebahagiaan? Takut tidak bisa mewujudkan mimpiku? Aku rasa tidak. Lalu, apa yang sebenarnya membuat aku gelisah seperti ini? Sebuah pertanyaan yang akhirnya kutemukan jawabannya melalui diskusi panjang dengan diri sendiri.

Mengapa Gelisah?

Banyak hal yang aku temukan ketika mencari jawaban dari pertanyaan ini. Aku tidak bisa menceritakan semuanya, tapi ada beberapa hal yang ingin aku bagikan. Ambil sisi baiknya dan buang sisi buruknya, karena itulah sikap orang bijak dalam menanggapi suatu kejadian.

Gelisah karena Mencari Jati Diri?

Banyak orang yang berkata bahwa di usiaku saat ini, mungkin aku sedang mencari jati diri. Alasan klasik yang biasanya digunakan oleh orang-orang untuk mewajarkan suatu penyimpangan. Tapi, jauh dari itu, sepertinya bukan jati diri yang membuat kegelisahan ini. Aku sudah mulai bisa menerima siapa diriku, menerima dan mencintai hidupku. Walaupun mungkin ada banyak orang yang bilang “Ubah sikapmu!”, tapi sejujurnya aku sudah merasa nyaman hidup dengan sikap seperti ini. Memang ada kemungkinan aku akan merubah sikapku, tapi atas penilaianku sendiri, bukan karena penilaian oran lain. Berkembang dan berubah adalah kodrat alamiah yang dimiliki setiap makhluk hidup. Maka dari itu, setiap manusia yang hidup di muka bumi ini, pasti akan mengalami perubahan. Begitupun dengan pemikirannya.

Gelisah karena Perubahan Pemikiran?

Ada banyak hal yang dulu aku ikuti, sekarang tidak kuikuti lagi. Ada banyak hal yang dulu kubenci, sekarang justru aku mencintainya. Ada banyak hal pula yang dulu aku abaikan, kini mulai kuperhatikan. Hal semacam ini sangat wajar terjadi pada diri manusia. Perubahan bukanlah hal tabu yang harus ditakuti. Lalu, apakah aku gelisah karena aku berubah? Sepertinya tidak juga. Justru perubahan ini yang membuatku berkembang dan bisa memahami apa yang dulu tidak aku pahami. Bisa merasakan yang dulu tidak aku rasakan, dan bisa melihat dari sisi lain yang dulu terhalangi. Intinya, dengan perubahan ini aku mendapat banyak pengalaman dan wawasan baru. Jadi, aku rasa bukan perubahan yang membuat kegelisahan ini.

Gelisah karena Takut Miskin?

Hidup miskin? Itukah yang membuat kegelisahan dalam hidupku? Aku rasa juga tidak. Bahkan, dulu aku sempat berpikir ingin hidup seperti anak punk yang mencari uang hanya untuk makan. Aku juga sempat berpikir untuk pergi jauh dari kota ini, menetap di pegunungan, dan hidup dengan mengandalkan tumbuhan yang ditanam. Mungkin ini terdengar seperti bualan, tapi inilah hasil pemikiranku dulu. Hingga akhirnya aku sadar bahwa manusia diberikan tanggung jawab yang besar. Bukan hanya tanggung jawab pada dirinya sendiri, tapi juga pada orang lain, alam sekitar, hewan dan semesta raya. Bukankah ini tujuan Tuhan menciptakan kita.

Gelisah karena Tanggung Jawab?

Menyadari hal itu, aku pun harus memberikan tanggung jawab pada orang lain, terutama keluarga. Lantas, apakah tanggung jawab ini yang membuatku gelisah? Kurasa juga tidak. Awalnya aku memang takut, ketika menyadari bahwa manusia memiliki tanggung jawab yang begitu besar. Tapi lama-kelamaan aku juga menyadari satu hal, bahwa dalam memberikan tanggung jawab, aku harus menikmatinya juga. Menikmati disini bukan berarti harus berorientasi pada keuntungan, tapi menikmati dalam arti yang luas, kuncinya adalah ikhlas. Aku pun mulai bisa mengemban tanggung jawab ini dengan menikmatinya, terlepas dari berhasil atau tidak, yang jelas aku sudah berusaha. Jadi aku pastikan bukan tanggung jawab yang membuat kegelisahan ini. Lalu apa?

Kilas Balik

Demi menemukan jawaban dari rasa gelisah yang aku alami, aku mencoba melihat beberapa langkah ke belakang. Ketika langkahku belum sampai di titik tempatku berdiri saat ini. Terkadang cara seperti ini perlu dilakukan, agar mengetahui dari mana kita berasal. Sebab, semua hal yang melekat pada diri kita saat ini adalah hasil dari proses yang panjang pada masa lalu. Lalu apa yang aku temukan?

Masa Kecil

Seorang anak kecil yang pemalu, tidak pandai bergaul, lebih suka menyendiri, sering dianggap aneh, dan hanya memiliki beberapa teman saja. Anak yang suka mencoba segala hal yang membuatnya penasaran. Selalu dimanja oleh kedua orang tuanya yang begitu baik dalam mendidik, mengajarkan segala hal yang mampu membuat anaknya berkembang. Keluarga yang harmonis walaupun dalam kesederhanaan. Namun dapat aku pastikan bahwa tidak ada kegelisahan saat itu.

Masa Kecil Sendirian
Gambar Ilustrasi

Remaja

Lalu kucoba untuk melangkah lagi sedikit ke depan. Aku melihat seorang remaja yang tak pernah peduli dengan kehidupan orang lain. Pada usia yang masih muda seperti itu, kebanyakan orang akan mengidolakan artis idamannya. Tapi tidak dengan remaja ini, ia tidak memiliki artis idola. Ia tidak ingin menjadi siapa-siapa, hasrat dalam diri anak muda seakan tidak ada padanya. Di pikirannya hanya ada sebuah kalimat sederhana “Jalani saja hidup ini apa adanya”. Kalimat yang sampai saat ini masih melekat pada dirinya. Bahkan masih ada sifat pemalu yang ia bawa, walaupun di usianya ini ia mencoba untuk menunjukan rupanya. Mencoba mengikuti berbagai kegiatan yang melibatkan kelompok di sekolahnya. Tapi, semua itu berakhir dengan mengundurkan diri. Terlihat dengan jelas bahwa remaja ini, sedang mencari jati diri. Aku tidak melihat kegelisahan pada masa itu.

Masa Remaja - Tidak Merasakan Gelisah
Gambar Ilustrasi

Saat Ini

Aku melangkah lagi. Terlihat remaja yang sedang menuju kedewasaan. Mulai bekerja, walaupun keinginan dan cita-cita harus dikorbankan. Mengalah pada keadaan untuk sesaat, membuat keinginan dan kenyataan saling berseberangan. Tapi sedikit harapan di dalam hati masih menguatkan. Ia kejar harapan itu walaupun mata harus menghitam, kepala harus berat sebelah, dan pikiran teracak tak karuan. Hingga akhirnya ia berdiri seperti saat ini. Selama proses ini, aku pun tak melihat rasa gelisah dari dalam diri. Lalu dari mana kegelisahaan ini berasal? Apa penyebabnya?

Saat Ini
Gambar Ilustrasi

Jawaban dari Rasa Gelisah

Aku menyerah, sepertinya kegelisahaan ini memang tak beralasan. Pasrah adalah hal terakhir yang bisa aku lakukan. Sejujurnya kegelisahan ini ingin segera aku akhiri. Tapi bagaimana caranya? Sedangkan penyebabnya sendiri masih belum aku ketahui. Lelah seakan membuat tubuhku menjadi berat. Merebahkan badan sejenak adalah pilihan yang tepat. Memejamkan mata dan merasakan kesunyian, hanya suara detak jam dinding yang terdengar olehku. Suara detak jam tersebut lama-kelamaan terasa mengganggu. Mengapa detak nya seakan terasa semakin cepat. Bisakah hentikan waktu untuk sesaat agar aku bisa merasakan ketenangan?!

Baca Juga:  Belajar Menulis, Hingga Akhirnya Memahami

“Waktu? Cepat? Berhenti?” Aku menyadari satu hal.

Ya, aku tahu! Jadi ini yang selama ini membuatku merasa gelisah.

Menemukan Alasan Gelisah
Gambar Ilustrasi

Waktu terus berjalan. Detik, menjadi menit, jam, menjadi hari, bulan, menjadi tahun, tapi aku merasa masih seperti ini. Aku merasa tidak bergerak, tidak bisa mengikuti waktu. Inilah yang membuatku gelisah.

Bagaimana mungkin kegelisahanku hanya disebabkan karena hal seperti ini? Memang terlihat sepele, tapi maknanya sangat luas. Apakah kamu merasakannya juga? Jika iya, coba cari tahu apa maknanya. Karena seperti di awal tadi, aku tidak bisa menceritakan semuanya. Kamu harus mencarinya sendiri untuk memahaminya.

Mengobati Rasa Gelisah

Setelah menemukan jawabannya, aku kira bisa mengobati kegelisahan ini dengan mudah. Ternyata tidak, aku justru kebingungan. Apa yang harus aku lakukan untuk mengobati kegelisahan karena waktu yang terasa cepat sedangkan diri masih memaku di sini. Aku jadi merasa lucu sendiri. Sebab, tadi dengan percaya diri berpikir bahwa: jika tahu alasannya, pasti akan mudah mengatasinya. “Hmmmm…”.

Mungkin karena terlalu lelah memikirkan hal seperti ini, tanpa disadari aku tertidur. Aku bermimpi, sedang mengunjungi sebuah kajian islami. Ada ustadz kondang disana yang sedang berceramah, aku tahu siapa dia. Tapi mohon maaf tidak akan aku sebutkan namanya. Ustadz tersebut sedang berceramah, kemudian dia mengucapkan kalimat seperti ini: “Cara mengatasi semua masalah, kegelisahan, ketakutan dan lain sebagainya adalah dengan takarub ilalah”. Jantungku terasa berdebar, ternyata aku justru menemukan jawabannya melalui mimpi. Seketika aku pun terbangun.

Carea Mengobati Gelisah
Gambar Ilustrasi

Belum sepenuhnya sadar karena baru bangun tidur, aku segera mengambil kertas dan mencatat kata “takarub ilalah”. Maklum, aku sering kelupaan, maka dari itu langsung aku catat. Kalau boleh jujur, aku sama sekali tidak tahu artinya. Bahkan, kata itu baru aku dengar dari mimpi tadi. Aneh? Memang. Setelah benar-benar sadar, aku segera mencari artinya di internet. Ternyata tulisan yang benar adalah Taqarrub Ilallah, yang berarti, cari sendiri yah.

Aku kira cukup sampai disini. Aku hanya perlu menjalankan Taqarrub Ilallah untuk mengobati kegelisahan ini.

Saran

Jika teman-teman memiliki kritik dan saran silahkan bisa hubungi kami pada halaman KONTAK. Kami juga berharap teman-teman dapat berpartisipasi dalam membangun website ini. Terakhir, kami meminta maaf jika dalam website Ide Bebas terdapat banyak kekurangan. Terima kasih sudah mengunjungi website ini, semoga dapat bermanfaat.

PAHAMI SETIAP KATA DAN TEMUKAN RAHASIA DI DALAMNYA…

Tinggalkan komentar