Desa Cangkuang dan Bendungan Kemplang – Cirebon

Desa Cangkuang dan Bendungan Kemplang – Cirebon
Agustus 23, 2019 No Comments PENGETAHUAN ZigerWix

Cangkuang adalah salah satu Desa di Cirebon, lebih tepatnya di Kecamatan Babakan Kabupaten Cirebon. Desa ini merupakan tempat yang memiliki icon tersendiri di wilayah Cirebon Timur, yang jarang dimiliki oleh tempat lainnya. Icon tersebut berupa sebuah Bendungan yang cukup luas, yaitu Bendungan Kemplang, begitulah orang-orang menyebutnya. Konon katanya, Bendungan ini sudah ada sejak jaman penjajahan Belanda. Jika hal itu benar, maka kita semua harus menjaga tempat bersejarah ini. – Sejarah Desa Cangkuang, Desa Serang, Desa Gembongan, dan Bendungan Kemplang.

Walaupun Desa Cangkuang sudah memiliki penduduk yang cukup banyak, namun masih sedikit sumber yang menceritakannya. Terutama cerita tentang sejarah Desa ini, dan Bendungan Kemplang yang ada di dalamnya. Bagi kamu yang mencintai kisah sejarah, juga mencintai Desa Cangkuang dan Bendungan Kemplang, Silahkan simak artikel ini. Karena pada artikel ini, akan diungkapkan asal-usul Desa Cangkuang, hingga kehidupan masyarakatnya saat ini.

Dalam artikel ini, juga terdapat sejarah-sejarah Desa Serang, dan Desa Gembongan. Juga asal-usul mengenai penamaan Bendungan Kemplang, yang menjadi icon dari Desa Cangkuang. Silahkan simak baik-baik, pahami dan sebarkan kepada saudara kita. Agar kelak, anak cucu kita tahu sejarah Desanya.

Sejarah Desa Cangkuang, Kecamatan Babakan – Kabupaten Cirebon

Jika ingin membahas tentang Desa Cangkuang, tentu tak lepas dari Desa-Desa di sebelahnya. Desa tersebut antara lain adalah Desa Serang, dan Desa Gembongan. Karena kisah sejarah ketiga Desa ini saling berhubungan, dan berkaitan. Berikut Sejarah Desa Cangkuang, Desa Serang, Desa Gembongan, dan Bendungan Kemplang.

Awal Kisah

Pada saat itu, Pangeran Sutajaya dan isterinya sedang beristirahat di suatu tempat. Para pengawalnya juga ikut menemani, yaitu Wira Permana, Wira Sonjaya, Wira Bama, dan Wira Sakti. Mereka berteduh pada sebuah pohon besar, pohon tersebut adalah pohon asem. Kondisi tempat tersebut sangat gersang, dan sulit menemukan air. Maka dari itu, para pengawalnya diperintahkan untuk mencari air minum.

Macan Serang
Macan Serang

Saat keempat pengawalnya pergi, muncul dua ekor harimau dari arah hutan Cikoneng. Kedua harimau tersebut berbulu loreng, dan berburu kelabu. Untuk sejenak, Pangeran Sutajaya terdiam dan berdoa meminta petunjuk dari Allah SWT. Akhirnya Pangeran Sutajaya mendapatkan petunjuk, bahwa kedua harimau tersebut bukan harimau sembarangan.

Baca Juga:  Sosiologi Menurut Para Ahli, Ciri-Ciri dan Objeknya

Blok Cisaat – Desa Cangkuang

Setelah berhadapan dengan Pangeran Sutajaya, kedua harimau tersebut duduk di depan Pangeran Sutajaya. Kedua harimau tersebut kemudian berbicara dengan Pangeran Sutajaya, mereka terlibat diskusi yang cukup panjang. Ternyata kedua harimau tersebut merupakan jelmaan manusia, yaitu Ki Raksagati dan Ki Wanagati. Ternyata kedua nya merupakan punggawa dari kerajaan Pajajaran, yang saat itu kerajaannya diserang oleh Sunan Gunung Jati. Sunan Gunung Jati sendiri merupakan cucu dari Prabu Siliwangi, tujuan ia menyerang kerajaan Pajajaran agar Prabu Siliwangi masuk Islam lagi.

Sunan Gunung Jati - Sejarah Bendungan Kemplang
Sunan Gunung Jati

Setelah cukup lama berdialog, akhirnya diketahui bahwa kedua harimau tersebut ingin tinggal di wilayah Cirebon. Keduanya ingin mengabdi kepada Sunan Gunung Jati, walaupun tidak secara langsung. Salah satu harimau itu, menanyakan daerah apa yang saat ini sedang ia injak. Karena Melihat daerah tersebut kering dan tidak ada air, maka Pangeran Sutajaya menyebut daerah tersebut dengan nama Cisaat. Kemudian pohon asem tempat ia berteduh, dinamakan asem paying.

Sejarah Desa Serang – Tetangga Desa Cangkuang

Kedua harimau bersaudara tersebut terus bercerita kepada Pangeran Sutajaya. Bahkan mereka membicarakan tentang Pangeran Karang Kendal, yang telah merampas harta dari kerajaan Raja Galuh. Cukup lama juga mereka berdialog dengan Pangeran Sutajaya, hingga kahirnya mereka pamit dan meminta ijin untuk menetap di tanah Cirebon. Kemudian Pangeran Sutajaya menunjuk ke arah Timur Laut, dan menyuruh mereka menetap disana.

Kedua harimau tersebut senang mendapat ijin dari Pangeran Sutajaya, karena diperbolehkan menetap disana. Menurut Pangeran Sutajaya, tanah disana luas dan landai. Suatu hari, tanah tersebut akan menjadi tanah yang subur, makmur, dan dapat di tanami padi. Tanah tersebut adalah “serang-serang“, yang berarti sawah. Setelah mendapat ijin, mereka berdua bergegas menuju ke tanah “serang-serang” tersebut.

Baca Juga:  GIS, Lengkap! Bukan hanya Sistem Informasi Geografis Saja
Balai Desa Serang
Balai Desa Serang

Setelah sampai di tanah “serang-serang” keduanya tinggal dan menetap disana. Mereka bercocok tanam, dengan menanam padi. Karena keduanya sangat rajin, maka mereka memperluas tanah garapannya. Orang sunda biasa menyebut hal ini sebagai babak-babak, maka dari itu, tempat tersebut dinamakan Babakan. Karena tanah garapannya luas, maka untuk menjaganya, mereka menggunakan ilmu ghaib. Ilmu tersebut bisa berwujud harimau, yang sewaktu-waktu bisa menampakan diri. Sampai saat ini, harimau tersebut dikenal dengan Macan Serang.

Sejarah Desa Cangkuang

Waktu terus berlalu, tanah Serang kini semakin makmur. Kedua harimau tersebut terus menempati tanah Serang, dan memiliki banyak keturunan. Ranggagati (yang dikenal dengan Kuwu Ringgit), adalah salah satu keturunan mereka. Ranggagati merupakan orang yang sangat kaya, dan diangkat menjadi sepuh Dusun Serang. Karena begitu kaya, lantai rumahnya pun dipasang uang ringgit (perunggu). Banyak orang jahat yang ingin mencuri harta Ranggagati, namun tidak bisa. Hal tersebut dikarenakan, Ranggagati memiliki kesaktian yang dinamakan Rawa Rontek. Yaitu kesaktian yang mampu membuat penggunanya hidup kembali, sekalipun badannya sudah terpotong-potong.

Balai Desa Cangkuang
Balai Desa Cangkuang

Para pencuri (garong) kemudian melakukan pengawasan terhadap Ranggagati, untuk mencari kelemahannya. Hingga akhirnya mereka menemukan kelemahan Ranggagati, yaitu salah satu anggota tubuh yang sudah terbunuh jangan sampai menyentuh tanah. Para garong pun langsung melakukan rencananya, dan mereka berhasil membunuh Ranggagati. Kemudian, memotong tubuh Ranggagati menjadi tiga bagian. Agar tidak menyentuh tanah, potongan kepalanya diikat (Cangcang) pada sebuah tempat di dekat bendungan. (Cikal bakal Bendungan Kemplang). Di kemudian hari, tempat tersebut dinamakan Desa Cangkuang.

Sebelum meninggal, Ranggagati mengeluarkan sumpah (sepata/sepatani). “Engko anak putu inyong belih usah sugih-sugih. Selalu di incar maling uripe lan pan matine disiksa kaya nasibe inyong dewek“. yang artinya adalah. “Nanti anak cucu ku tidak perlu kaya. Hidupnya selalu di incar maling, dan menjelang ajal nya disiksa seperti diriku“. Demikian sumpah yang di ucapkan Ranggagati (Kuwu Ringgit), sebelum menghembuskan nafas terakhirnya.

Baca Juga:  Awan Lengkap! Pengertian dan Jenisnya

Sejarah Desa Gembongan

Anggota tubuh Ranggagati yang sudah dipotong, kemudian dipisahkan di tempat yang berbeda. Kepalanya dicancang pada sebuah tempat, yang nantinya tempat tersebut dinamakan Desa Cangkuang. Sedangkan potongan badan nya, di kubur pada tempat yang berbeda. Tempat di kuburnya badan/perut Ranggagati, dinamakan Desa Gembongan. Kata Gembongan berasal dari kata Gembung, yang artinya perut.

Balai Desa Gembongan Mekar
Balai Desa Gembongan Mekar

Begitulah kisah sejarah ketiga Desa ini, memang saling berhubungan. Karena letaknya pun saling berdekatan, yaitu saling bertetangga.

Sejarah Bendungan Kemplang

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya, kisah tentang Pangeran Sutajaya, kedua harimau, dan kisah tentang Ranggagati terlupakan. Zaman mulai berubah, dan kisah mereka hanya dianggap sebagai dongeng belaka. Para penjajah mulai memperluas lahan ekspansi mereka. Bendungan yang dulu menjadi saksi bisu pen-cancangan kepala Ranggagati pun mulai di renovasi pada tahun 1928.

Bendungan Kemplang
Bendungan Kemplang

Bendungan tersebut, difungsikan sebagai sumber dari pengairan tumbuhan tebu. Karena saat itu, Belanda membuat pabrik gula sebagai tambahan modal ekspansi. Pada saat pembangunan berjalan, ada seseorang yang dipukul oleh balok pindu bendungan. Hal itu menyebabkan orang tersebut meninggal, ini lah cikal bakal penamaan Kemplang, yang artinya Pukul/Tampar/Tabok.

Kali Ciberes - Bendungan Kemplang
Kali Ciberes

Bendungan Kemplang mengalir pada saluran irigasi, dan sebuah sungai. Sungai tersebut sangat besar, dan memiliki banyak misteri didalamnya. Konon katanya, jika ada orang yang mampu menyeberangi sungai tersebut, maka semua urusannya akan mudah diselesaikan (beres). Sekalipun orang tesebut huru-hara, dan mencari keributan. Maka dari itu, sungai tersebut dinamakan Sungai Ciberes atau Kali Ciberes.

Saran

Jika teman-teman memiliki kritik dan saran silahkan bisa hubungi kami pada halaman KONTAK. Kami juga berharap teman-teman dapat berpartisipasi dalam membangun website ini. Terakhir, kami meminta maaf jika dalam website Ide Bebas terdapat banyak kekurangan. Terima kasih sudah mengunjungi website ini, semoga dapat bermanfaat.

PAHAMI SETIAP KATA DAN TEMUKAN RAHASIA DI DALAMNYA…

Tags
ZigerWix
ZigerWix Hanya ada satu hal di dunia ini yang benar-benar bebas. yaitu "PEMIKIRAN"

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *