Ajimut (Bukit Manengteung) – Menghibur Diri Dalam Sunyi

Bukit ajimut atau bukit manengteung menyimpan berbagai keindahan yang tersembunyi. Selain memiliki tebing yang menyerupai tebing hokage dalam manga naruto, ajimut juga memiliki sisi lain yang tak kalah menariknya. Aku sering melewati bukit ini, akan tetapi tidak mendaki ke puncaknya. Entah sudah berapa lama aku tidak menapakan kaki di puncak bukit manengteung. Terakhir aku mendaki ke tempat ini bukan untuk ke puncaknya, tetapi sedikit melimpir menuju tebing hokage. Hingga akhirnya, suatu kesedihan membawaku kembali menapakan kaki di puncak bukit ini.

Haru

Wabah virus covid 19 ini membuat semuanya berubah, termasuk rencana-rencana petualanganku. Pergerakanku seperti dibatasi, tak bebas pergi kesana kemari seperti dahulu. Aku yang saat itu sudah penat dengan pekerjaan, memutuskan untuk mengambil cuti. Tentu saja, niat saat itu hanya untuk bertemu dengan keluarga di kampung halaman karena tidak memungkinkan untuk berpetualang. Setelah sampai di kampung halaman, aku segera melepas kerinduan bersama keluarga.

Senin pagi, aku melihat sepupuku murung. Tak heran, sebab hari ini ibunya hendak pergi untuk menjadi pahlawan devisa. Sangat sendu melihat pemandangan ini, terutama ketika ibunya berpamitan. Ah sudahlah, aku tak tega untuk menceritakannya. Singkat cerita, aku yang tidak tega melihat kedua sepupuku terus murung, berencana membawa mereka ke bukit ajimut atau bukit manengteung. Bukit ini letaknya tidak terlalu jauh dari rumahku, hanya sekitar 20 menit mengendarai motor. Jadi aku tidak terlalu memikirkan tempat tersebut tutup atau tidak karena covid 19. Ternyata, ibu dan adikku pun ingin ikut. Kebetulan, jadi kami bisa membawa 2 motor. Aku bersama sepupuku yang besar (kakak), dan adikku bersama dengan ibu dan sepupuku yang kecil (adik).

Berangkat

Kami berangkat sekitar pukul 09.30 WIB, sepanjang perjalanan aku mencoba menghibur sepupuku. Walaupun hanya dengan candaan sederhana, aku harap itu bisa melupakan harunya. Aku bisa tahu perasaan mereka. Meski air mata tak menetes, namun suasana hati yang mereka rasakan tak bisa disembunyikan dari pancaran matanya. Tujuanku membawa mereka ke bukit ajimut adalah untuk mencari ketenangan dan kejujuran hati dalam sunyi. Aku tahu betul tempat ini, tempat yang akan ramai ketika hari minggu tiba. Akan tetapi sangat sunyi dan sepi di hari-hari biasa.

Perjalanan Menuju Ajimut

Sekitar pukul 10.00 WIB kami sampai di bawah bukit. Kami segera menghampiri warung yang ada di situ untuk menaruh motor sekaligus istirahat sejenak. Tempat parkir di sini memang masih di kelola oleh pemilik warung sekitar, jadi masih belum resmi. Namun untuk status bukit ini, aku sendiri kurang begitu mengerti. Apakah di kelola oleh negara atau bukan, tetapi yang jelas, banyak pengunjung yang mendatangi tempat ini pada hari minggu. Setelah puas beristirahat di warung, kami bergegas untuk naik ke puncak bukit manengteung.

Tempat Parkir Bukit Ajimut

Mendaki Bukit Ajimut

Aku bisa melihat wajah bahagia dari kedua sepupuku, mereka bahkan berlarian ketika mendaki. Mereka sangat senang, sebab ini adalah pertamakalinya bagi sepupuku yang kecil mendaki bukit ajimut. Sedangkan sepupuku yang besar sudah pernah ke puncak namun itu dahulu dan sudah sangat lama tidak ke sini lagi. Aku terpaksa menyusul mereka, sebab ibu dan adikku berjalan santai. Sejujurnya, aku pun cukup kewalahan mengimbangi gerakan mereka. Di jalur dengan kemiringan yang cukup membuat stamina terkuras, mereka justru berlarian seakan tak merasakan lelah. Dalam pendakian ini, suasana yang tercipta sangat sunyi. Kami hanya bertemu dengan dua pengunjung saja. Sisanya, diwarnai dengan suara-suara burung dan decitan pepohonan yang sangat khas.

Mulai Mendaki

Sebenarnya saat ini sangat terik, namun rindangnya pepohonan seakan membantu kami agar terlindungi dari pancaran matahari. Angin yang sesekali bertiup juga membantu kami dengan kesejukannya. Hanya suara-suara alam yang terdengar, sunyi. Semua ini mungkin cukup untuk sejenak melupakan sendu di hati kedua sepupuku. Lebih jauh lagi, aku berharap sendu itu sudah hilang. Napasku mulai terengah-engah, namun mereka masih terus berlari. Luar biasa, pikirku. Aku jadi merasa malu karena tidak bisa mengimbangi gerakan sepupuku yang masih kecil. Bahkan sesekali aku menyuruh mereka untuk berhenti menungguku. Aku bisa mengerti, mungkin mereka ingin segera sampai di puncak ajimut.

Mendaki Sambil Berlari

Sedangkan di bawah, ibu dan adikku sudah tidak kuat lagi untuk melanjutkan pendakian. Mereka pun memutuskan untuk menunggu kami di samping jalur. Sebenarnya kondisi jalur ini sangat baik, terlebih sudah di aspal. Bagi seorang pendaki pro, kemiringan seperti ini mungkin tidak akan berarti. Akan tetapi bagi kami yang tidak pernah mendaki dan bahkan jarang berolah raga, jalur ini cukup membuat lelah. Berbicara kondisi jalur, aku melihat ada sedikit perubahan ketika terakhir kali ke sini. Aku tidak bisa menjelaskan detail perubahannya, intinya, perubahan itu bergerak ke arah yang lebih baik. Setelah berjalan cukup lama dengan napas yang terengah-engah, akhirnya kami sampai di puncak ajimut.

Beristirahat Di Samping Jalur Pendakian

Puncak Ajimut

Sampai di puncak ajimut, sepupuku langsung berteriak. Aku hanya tersenyum melihatnya, bagiku itu adalah ekspresi kegembiraan seorang anak. Namun jika ibu tahu, beliau akan melarangnya, sebab khawatir akan kesambet (diganggu ‘penghuni’ di situ). Aku senang melihat mereka tertawa, tetapi sesaat kemudian berubah menjadi rasa geram ketika melihat beberapa aksi vandalisme di sana. Sejujurnya aku tidak mengerti dengan orang-orang yang suka mencoret-coret tempat yang seharusnya dijaga dengan baik. Aku hanya ingin menyampaikan satu kata untuk mereka “Tolol!”.

Tangga Menuju Patung Perjuangan

Ketika sampai di puncak, hal pertama yang akan dilihat adalah menara sebuah provider telekomunikasi di indonesia. Di sampingnya terdapat bangunan yang mirip rumah dan dipagari, mungkin pusat penjagaan menara tersebut. Terdapat sebuah warung yang buka juga di sini, jadi tidak perlu khawatir akan perbekalan yang sedikit. Tepat di samping kanan gerbang bangunan provider, terdapat tangga yang menuju ke arah patung perjuangan. Bisa dikatakan bahwa patung tersebut adalah puncak sejati dari bukit ajimut. Patung perjuangan seharusnya bisa dijadikan sebuah monumen yang dilindungi negara, karena mengandung nilai sejarah yang tinggi. Tetapi entahlah, apakah sudah dikelola oleh negara atau belum, aku kurang mengetahuinya.

OTW Puncak Sejati Ajimut

Melihat ada tangga, sepupuku langsung menaikinya. “Hhhhhuuhhhh…” Napasku belum pulih dan mereka masih aktif dengan gerakannya. Aku segera mengikuti mereka, menaiki tangga menuju patung perjuangan. Tangga tersebut memang tak terlalu panjang, tetapi cukuplah untuk membuat napas kembali terengah-engah. Hanya sekitar 5 menit kami sudah sampi di bawah patung. Kondisi di sini lebih terbuka, sehingga kami bisa melihat pemandangan di bawah sana. Dahulu, terakhir kali aku ke patung ini, terdapat banyak coretan di sana. Namun saat ini sudah tidak ada lagi, sepertinya sudah dibersihkan oleh pengelola.

Baca Juga:  Jembar Waterpark, Renang Seru Bareng Keluarga! (Review)
Patung Perjuangan Bukit Manengteung

Rasa dan Sunyi

Hanya ada kami bertiga di puncak sejati bukit ajimut. Hal ini membuat suasana begitu sunyi, tetapi menenangkan. Sepupuku yang kecil segera menuju ke bibir jurang untuk melihat pemandangan indah di bawahnya. Angin sepoi-sepoi menerpa wajah kami, mengalahkan panas matahari. Aku ingin mengenalkan ketenangan yang bisa didapatkan dalam sunyi kepada kedua sepupuku. Ketenangan yang mungkin bisa membuat manusia berteman dengan rasa sedihnya. “Rasakan kesedihanmu, bertemanlah, kemudian biasakan dirimu untuk tersenyum pada kesedihan itu”.

Menikmati Pemandangan Puncak Ajimut

Berteman dengan kesedihan memang sulit, tetapi waktu dan hatimu bisa membantu. Selagi kedua hal tersebut berusaha membuatmu sembuh, peran orang terdekat sangat berpengaruh. Jadi jika ditanya, obat apa yang paling ampuh untuk mengobati kesedihan? Kamu tahu jawabannya. Lalu mengapa aku membawa mereka berdua ke tempat yang sunyi. Jawabannya sederhana, aku ingin mereka berteman dengan diri sendiri, melihat isi hati, dan memahaminya. Tempat sunyi dan indah seperti ini akan memudahkan mereka untuk melihat isi hati sendiri. Aku tak banyak berbicara pada mereka, kubiarkan mereka menikmati semesta.

Berteman Bersama Kesedihan

Pulang

Puas menikmati keindahan puncak sejati bukit ajimut, kami segera turun. Pasti adik dan ibuku sudah menunggu cukup lama di bawah. Tetapi tak masalah, hitung-hitung istirahat juga. Sebenarnya aku sendiri masih betah di sini, tetapi mengingat waktu yang semakin siang, akhirnya dengan berat hati kami melangkahkan kaki dari tempat ini. Stamina mereka seakan tidak habis, bahkan ketika turun pun, mereka masih berlarian. Sehingga aku sering melarang mereka untuk berlari, sebab berbahaya. Walaupun sudah beberapa kali ke tempat ini, tetapi situasi dan suasana hati seperti ini mengajarkan aku pengalaman baru.

Pulang dari Ajimut

Kami segera menghampiri adik dan ibuku, dan kemudian menuju parkiran. Sebelum pulang, aku sengaja mampir ke warung terlebih dahulu. Aku ingin tahu apakah harga makanan dan minuman di sini mahal. Ternyata tidak. Harga makanan, minuman dan jajanan di sini masih terbilang normal. Setelah puas menikmati jajanan warung dan menikmati suasana sungai yang ada di bawah ajimut, kami pun bergegas untuk pulang. Matahari saat itu sudah di tengah-tengah kepala kami, tanpa rindangnya pepohonan, panas mulai membakar kulit kami. Walaupun demikian, kami sangat bahagia bisa mengunjungi tempat ini. Terima kasih Tuhan, telah menciptakan keindahan semesta.

Sungai Di Bawah Ajimut

Biaya Masuk Bukit Ajimut

Tidak ada biaya masuk untuk mendaki bukit ajimut, alias gratis. Pengunjung hanya akan dikenakan biaya parkir kendaraan saja sebesar Rp. 2.000/motor dan Rp. 5.000/mobil. Jadi jika anda tidak membawa kendaraan, maka tidak dikenakan biaya sepeser pun. Silahkan kunjungi tempat wisata cirebon ini, tetapi tetap jaga kebersihan dan hindari aksi vandalisme.

Biaya Masuk Bukit Manengteung Ajimut

Saran

Jika teman-teman memiliki kritik dan saran silahkan bisa hubungi kami pada halaman KONTAK. Kami juga berharap teman-teman dapat berpartisipasi dalam membangun website ini. Terakhir, kami meminta maaf jika dalam website Ide Bebas terdapat banyak kekurangan. Terima kasih sudah mengunjungi website ini, semoga dapat bermanfaat.

PAHAMI SETIAP KATA DAN TEMUKAN RAHASIA DI DALAMNYA…

Tinggalkan komentar